by

5 Tradisi Unik Tana Toraja

-Berita-29,448 views

Setiap daerah di Indonesia memiliki beragam tradisi unik dan menarik. Salah satunya ada di Tana Toraja. Tana Toraja, secara harfiah berarti tanah Toraja, adalah dataran tinggi yang terletak di wilayah Sulawesi Selatan, Indonesia. Ia dikenal sebagai Tanah Para Raja Surgawi.

Di Tana Toraja wisatawan tidak hanya dapat berburu tujuan wisata instagrammable, tetapi mereka juga dapat menyaksikan berbagai tradisi unik dan tidak biasa dalam gaya Toraja. Bahkan beberapa budaya Tana Toraja telah dikenal di seluruh dunia karena keunikannya.

Berbagai tradisi warisan leluhur masih dilakukan oleh orang Toraja tetapi hanya dapat disaksikan pada waktu-waktu tertentu. Ingin tahu? Lihatlah 5 Budaya dan Tradisi Unik Tana Toraja ini.

1. Tedong Silaga

Tedong Silaga, Festival Tarung Kerbau di Tana Toraja Hiburan ...

Bagi masyarakat Toraja, Tedong Silaga (Buffalo Fighting) adalah acara hiburan bagi keluarga yang sedang berduka. Keluarga yang memegang Tedong Silaga biasanya berasal dari orang-orang terhormat dan dari kelas ekonomi atas. Mereka harus menyiapkan kompensasi untuk setiap kerbau mati di arena pertempuran.

Arena pertempuran kerbau juga merupakan tempat taruhan. Sebelum acara dimulai, panitia mengumumkan melalui pengeras suara bahwa taruhan diizinkan sepanjang terkait dengan perkelahian kerbau. Pertarungan antara kedua kerbau akan berakhir jika salah satu dari mereka terbunuh. Tetapi ini adalah situasi yang sangat langka karena biasanya kerbau yang dikalahkan akan meninggalkan arena sebelum terbunuh. Kerbau yang akan bertempur telah menjalani perawatan khusus dengan menyediakan makanan bergizi dan perawatan pijat.

2. Ma’tinggoro Tedong

Ma’tinggoro Tedong (Pembantaian Kerbau) adalah salah satu dari serangkaian acara dalam ritual Rambu Solo. Tinggoro Tedong menampilkan prosesi penyembelihan kerbau yang dilakukan dengan memotong leher kerbau dengan satu tebasan, menggunakan parang Toraja.

Menurut kepercayaan leluhur Toraja atau apa yang disebut Aluk Todolo, kerbau adalah binatang yang akan membantu arwah yang meninggal pergi ke “puya” atau akhirat. Meskipun digolongkan sadis, tradisi Ma’tinggoro Tedong selalu menarik wisatawan lokal dan asing untuk datang ke Tana Toraja.

3. Ma’nene

The Meaning of Death Behind the Ma'nene Ritual Tradition ...

Pernah melihat orang mati berjalan dalam kenyataan? Nah, di Tana Toraja Anda akan menemukan hal-hal yang tidak biasa ini. Ma’nene adalah nama ritual.

Ma’nene adalah upacara tradisional untuk menggantikan pakaian mayat para leluhur. Upacara ini diadakan setiap tiga tahun dan biasanya pada bulan Agustus. Ritual Ma’nene dilakukan secara khusus oleh orang-orang Baruppu di desa terpencil Toraja Utara. Masyarakat adat Toraja percaya bahwa jika ritual itu tidak dilakukan, maka sawah dan ladang tanaman mereka akan dirusak oleh hama dan ulat yang datang secara tiba-tiba.

Ketika Ma’nene dilakukan, peti mati para leluhur akan dipindahkan dari kuburan batu dan ditempatkan di arena upacara. Tulang dan mayat yang tidak dikomposisi dibersihkan dengan mencuci mereka dan kemudian pakaian diganti.

Untuk mayat, pria akan mengenakan pakaian lengkap dengan dasi dan kacamata hitam baru. Biasanya pakaian diberikan oleh cucu dan anak-anak mereka yang telah berhasil. Mereka memperlakukan mayat seolah masih hidup dan dianggap masih menjadi bagian dari keluarga.

Kegiatan ini dilakukan selama tiga puluh menit. Setelah mengganti pakaian mayat leluhur, orang-orang kemudian berkumpul untuk menikmati makanan bersama. Ma’nene biasanya dilakukan bersamaan dengan upacara tradisional Rambu Solo, di mana keluarga membawa hewan untuk pengorbanan seperti babi atau kerbau ke kuburan untuk meminta perlindungan dan berdoa untuk rezeki berlimpah.

4. Rambu Solo

6 Perbedaan Rambu Solo' & Rambu Tuka' dalam Upacara Adat Suku Toraja

Rambu Solo adalah upacara tradisional untuk kematian komunitas Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan membebaskan roh orang-orang yang telah mati ke alam roh, untuk mengembalikan mereka ke keabadian bersama leluhur mereka di tempat peristirahatan.

Upacara ini juga disebut upacara peningkatan kematian karena orang yang telah meninggal dianggap benar-benar mati jika seluruh prosesi upacara dipenuhi. Jika tidak, maka orang yang meninggal hanya dianggap orang yang “sakit” atau “lemah”, jadi dia masih diperlakukan seperti orang yang masih hidup, membaringkan mereka di tempat tidur dan diberi makanan dan minuman dan bahkan diundang untuk berbicara.

Di komunitas Toraja, upacara pemakaman adalah yang paling penting dan mahal. Seseorang yang lebih kaya dan lebih kuat adalah, semakin mahal layanan pemakamannya. Tradisi ini dapat berlangsung selama beberapa hari sesuai dengan status sosial keluarga pengurus Rambu Solo.

5. Sisemba

7 Fakta Tentang Tradisi Sisemba, Pertarungan Adu Kaki dari Toraja

Sisemba adalah tradisi unik komunitas Toraja di mana orang ke kerumunan dan saling menendang. Tradisi ini dilakukan di hamparan sawah ketika pesta panen diadakan di Desa Kande Api, Kabupaten Toraja Utara. Dalam acara ini, berbagai makanan khas disajikan, tarian tradisional atau “ma ‘gellu” dilakukan serta tradisi menumbuk nasi atau dikenal sebagai ma’latala.

source: authentic-indonesia

News Feed